BBWS Pemali Juana Siapkan Pembongkaran Bangunan Eksisting KBT

SEMARANG-Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana saat ini sedang melakukan inventarisasi untuk memersiapkan pembongkaran dan rekonstruksi bangunan eksisting yang terkena dampak pembangunan normalisasi sungai Banjir Kanal Timur (BKT).

Bangunan eksisting pada paket pertama, yakni dari muara Kelurahan Tanjungmas ke jembatan rel kereta api Kelurahan Kemijen. Di antaranya adalah jembatan rel kereta dan Jembatan Arteri Yos Sudarso. Selain itu, bangunan pintu air di Tanggul Rejo serta saluran pipa gas dan rumah pompa masing-masing di Kali Banger.

“Bangunan eksisting di sepanjang Sungai Banjir Kanal Timur perlu disesuaikan. Sebagian bangunan eksisting ini diperlukan pembongkaran dan rekonstruksi. Selebihnya akan dilakukan penyesuaian berdasarkan desain yang ada,” kata Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana, Ruhban Ruzziyatno, kemarin.

Dikatakannya, di antara bangunan eksisting sebagian di antaranya akan dilakukan pembongkaran seperti di Jembatan Kaligawe Lama. Selain itu, ada dua jembatan lama di Tambak Dalam Sawah Besar dan Citarum akan dilakukan rekonstruksi. “Saat ini, kami masih melakukan inventarisasi dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Termasuk koordinasi dengan Pemkot Semarang untuk memutuskan mana yang akan dilakukan pembongkaran atau rekonstruksi terlebih dulu,” katanya.

Sedangkan bangunan eksisting pada paket kedua, yakni mulai jembatan rel kereta api hingga Jembatan Citarum, meliputi lima jembatan umum, dua pintu air, saluran pipa gas dan dua rumah pompa. Kemudian, pipa saluran pembuangan, jembatan Telkom, dua tiang listrik serta jembatan PDAM.

Sementara paket ketiga, yakni dari Jembatan Citarum ke Jembatan Majapahit terdiri atas dua jembatan umum masing-masing di Majapahit dan Jembatan Kartini. Selanjutnya, tiga buah pintu air, tiga rumah pompa, kabel Telkom, empat tiang listrik dan sebuah jembatan pipa PDAM. “Tahap I meliputi galian sungai, mulai Jembatan Majapahit hingga muara dengan panjang 6,7 km. Kemudian, peninggian tanggul di sisi sungai dengan panjang 5,3 km, pembangunan parapet sepanjang 4,2 km dan pelindung tebing sepanjang 5,3 km,” terangnya.

Sesuai dengan Detail Engineering Design (DED), lebar sungai dari bagian atas setelah dinormalisasi menjadi 65 meter. Sedangkan lebar dasar sungai 50 meter.
Anggaran yang digunakan di tahap pertama kurang lebih Rp 560 miliar bersumber APBN, dengan sistem multiyeras atau tahun jamak.

Lebih lanjut, kata Ruhban, dalam pembangunan ini diperkirakan total galian sepanjang sungai kurang lebih 900.000 meter kubik. Selain itu, akan dibangun dinding penahan banjir dengan tinggi bervariasi, antara 40 cm-100 cm di sepanjang jembatan Kaligawe hingga Majapahit. “Setelah tahap I selesai, akan dilanjutkan tahap II mulai jembatan Majapahit sampai Pucang Gading dengan panjang sungai 7,7 km,” katanya.

Sedikitnya tercatat sebanyak 1.339 rumah warga di Bantaran Sungai Banjir Kanal Timur harus direlokasi dan 131.426 meter persegi tanah yang perlu dibebaskan. Mengenai berbagai macam fasilitas publik yang telah direncanakan adalah zona olahraga seluas 6,25 hektare di Kecamatan Gayamsari. Sedangkan di wilayah Kelurahan Karangtempel dilengkapi zona rekreasi dengan luas 6,25 hektare. Termasuk titik lain yang akan dilengkapi dengan fasilitas olahraga dan rekreasi adalah di Kelurahan Sawah Besar, Pandansari dan Mlatiharjo. “Tidak hanya itu, di daerah Sambiroto akan disediakan areal rekreasi seluas 3,68 hektare dan di Rejosari dibangun taman bermain untuk anak seluas 5,90 hektare.